JOURNAL 2015 - 2017

REDAKSI KREATIVISI INDONESIA

Jurnal No.Dok.80/KI/KB/MEDIA/2017 - TGL20/03/2017

MENOLAK MENJADI TERTINGGAL

Perkembangan Sains dan Teknologi di Dunia berkembang pesat. Dunia berlomba untuk menjadi terdepan dalam segala hal termasuk temuan Inovasi baru dan membuat segala hal semakin praktis. Tak terbantahkan bahwa trend dunia di kontrol oleh prodiktifitas para seniman dan penemu juga kontribusi para inovator. Budaya Barat mendominasi trend dunia melalui pola fikir masyarakatnya yang terbuka pada konsep dan pengembangan baru. Tak heran tokoh-tokoh penemu Avan Garde pada umumnya berasal dari belahan barat. Namun di indonesia hal ini sudah mulai terjadi di beberapa kota besar dengan latar belakang kepemimpinan dan aparatur maupun staf serta pejabat pemerintahan yang rata-rata cerdas, modern dan melek teknologi sperti Jakarta, Bandung, Jogja, Medan, Surabaya, dan lainnya kini menjadi pelopor bagi daerah tertinggal. Menjadi daerah tertinggal bukanlah kemauan masyarakat banyak melainkan terhambatnya laju pertumbuhan di sektor masyarakat itu sendiri dan sektor pemerintahan yang kurang jeli. Salah satu sebab keterbelakangan ialah tidak mencoba mendahului bukan? Dan yang terbelakang selalu menjadi pengikut atau dalam bahasa inggrisnya sebagai “Folowers”.

LAPORAN UTAMA

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, atau bermaksud merendahkan pihak manapun kami KREATIVISI INDONESIA & Partners dapat menunjukkan Data Riset perolehan kami sepanjang 2011 hingga 2016 tentang penggunaan anggaran pemerintah untuk proyek-proyek Pemerintah di Kalimantan Barat yang tidak pada tempatnya termasuk Kota Pontianak dan Kabupaten/Kota lainnya. Hingga data tersebut nantinya akan secara terbuka kami Publikasikan secara resmi pada media online kami www.kreativisindo.co.id , www.redaksi-indonesia.org , dan official media partner nasional.

BAHASA DAN KECERDASAN

Bahasa Indonesia sejatinya kini juga berkembang seiring trend dan soasialita. Standart Operation Procedure penggunaan juga tata bahasa, serta penggunaan singkatan-singkatan tanpa penjelasan dalam dokumen pemerintahan kita ini bisa juga jadi alasan ketidakmengertian aparatur dalam menjalankan Rincian Anggaran Belanja Daerah tidak pada tempat semestinya. Dan memang beberapa faktor kebutuhan Institusi terkait dapat juga jadi alasan tepat dan dapat dibenarkan atas terjadinya inisiatif atas kebijakan perubahan penggunaan mata anggaran selama dapat dipertanggungjawabkan. Hal-hal yang mendasari perubahan tersebut tentu memiliki landasan teori yang kuat disamping kencangnya urat leher dan pelototan ganas agar hal tersebut dapat disetujui saat rapat kemudian diiringi beberapa kepentingan yang istimewa membawa hasil perundingan. Dasar Intelegensi dan wawasan aparatur, penggunaan tata bahasa yang ditransformasikan ke dalam bahasa tubuh, fleksibilitas forum rapat, dan bisikan halus menunjukan kecerdasan masing-masing personal.
Peraturan Pemerintah dalam hal ini cukup fleksibel tentunya dalam memberi keleluasaan untuk aparatur pelaksana manajemen pengelolaan belanja daerah di berbagai institusi. Seharusnya hal ini bukan jadi halangan atau penghambat bagi kontributor kreatif yang membawa Inovasi kepada arah lajunya kompetisi kemajuan dunia tentang usulan penemuan yang membawa efek praktis untuk Institusi tersebut pada umumnya. Namun demikian, meninjau dari hasil survey, yang sering terjadi dari sekian penolakan tersebut adalah atas usulan yang dibawa oleh para kontributor kreatif kepada Institusi yang selalu dengan alasan post mata anggaran yang tidak tersedia untuk usulan Kontributor Kreatif tersebut.

GAGAL PAHAM

Pemerintah mencanangkan program yang wajib dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan yang penting memiliki prosedur standar pengelolaan juga sosialisasi untuk pemahaman para staf dan pejabat penyelenggara atas fleksibilitas dari Judul kegiatan yang di anggap baku. Pemahaman-pemahaman sempit atas judul ini menjadi filter atas penolakan proposal kontributor kreatif yang salah menuliskan judul walaupun esensi dari usulan tersebut mungkin, sebetulnya tersedia pada salah satu program kegiatan di instansi tersebut. Parahnya lagi jika Kontributor kreatif tidak memiliki koneksi yang kuat atau setidaknya diberi kesempatan mempresentasikan usulannya yang kemudian hanya mampu menitipkan proposal tersebut kepada satpam atau staf. Dan pemahaman ini menjadi tradisi tersebar di berbagai instansi di Kalimantan Barat.

VISI & KONTRIBUSI

Bukanlah karena kemampuan masyarakat yang minim, atau dikarenakan tak punya harta dan kekayaan. Melainkan karena tidak memiliki dasar pemahaman, keras kepala, merasa hebat, menilai hanya dari penampilan, budaya dan pemikiran skeptis atas hasil temuan seseorang, tidak disediakan ruang khusus bagi para penemu maupun kontributor Inovasi, yang pada akhirnya memperlambat lajunya pertumbuhan perekonomian dan Informasi. Inovasi akhirnya dilumpuhkan oleh aparatur berstatus folowers berciri-ciri permintaannya “mau buat yang seperti di tempat ini itu dan lain sebagainya. Atau paling tidak ada kajian kebutuhan atas Program maupun kegiatan di lingkungan institusi pemerintah atau fasilitas ruang penerima kemitraan masyarakat dimana para kontributor dapat mempelajari program kerja instansi tersebut sehingga dapat memberikan penyajian bentuk proposal dengan format yang diinginkan maupun persyaratan yang ditentukan instansi bersangkutan.

PENUTUP

Demikianlah hal ini disampaikan oleh Redaksi Kreativisi Indonesia berdasarkan Fakta yang kami jumpai di lapangan untuk tujuan yang semata-mata berbagi pengalaman yang dari hal tersebut berharap dapat bermanfaat untuk kebaikan sesama. Pada akhirnya penulis redaksi mohon maaf apabila hal tersebut ternyata menimbulkan kontra indikasi pembaca atau ada pihak-pihak yang tersinggung maupun merasa direndahkan atas isi penulisan dalam ini mohon agar mohon dimaafkan.

(Disampaikan Oleh ALFI)

Jadwal Imsakiyah

Jadwal Imsak untuk wilayah Indonesia bagiana Barat. Kreativisi Indonesia mengucapkan Selamat menunaikan...

SEARCH